Senin, 12 November 2012

Kajian Kepemudaan

Pemuda Dalam Krisis

pemuda-bebas
Di mana-mana kini banyak orang, termasuk rakyat biasa, mendengung-dengungkan kepemimpinan kaum muda. Kepemimpinan politik selama ini, yang banyak didominasi oleh kaum tua, sudah terbukti gagal.
Selaras dengan itu, pada 29 Oktober 2012, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, lahirlah gerakan yang disebut “Gerakan Indonesia Memilih”. Gerakan ini berupaya mencari pemimpin ideal bangsa kedepan.
Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, yang turut berorasi dalam acara deklarasi gerakan itu, mengatakan pemimpin untuk tahun 2014 haruslah orang muda. Ia mematok usia pemimpin muda itu paling tinggi 50 tahun.
Seakan memperkuat pernyataan Emil Salim, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengutip kata-kata Tan Malaka: “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda.” Artinya, di tengah kemerosotan moral pemimpin sekarang ini, pemuda-lah benteng terakhir penyelamatan bangsa.
Kita pun dipaksa menoleh ke belakang untuk melihat sejarah bangsa kita. Pada masa awal Republik, dari tahun 1945-1949, Indonesia dipimpin oleh kaum muda. Mereka adalah Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin, dan lain-lain. Pada kenyataannya, usia boleh muda, tetapi kualitas dan kemampuan mereka berlebih.
Namun, kita harus sadar, jaman sudah berubah. Pemuda sekarang sangat berbeda dengan pemuda jaman dulu. Plesetan di facebook bilang begini: “kalau dulu Bung Karno, dengan 10 pemuda, akan mengguncang dunia. Maka sekarang 10 pemuda berkumpul akan membentuk boy-band.”
Empat belas tahun lalu, ketika pemuda mendobrak pintu perubahan, orang menyemai harapan. Setidaknya, dengan tampilnya pemuda, kehidupan berbangsa kedepan akan lebih cerah. Namun, mau apa, kini kita seperti berjalan dalam lorong yang gelap. Belum terlihat seberkas cahaya pun di depan sana.
Banyak pemuda tampil dalam politik. Namun, sepak-terjang mereka tak berbeda jauh dengan kaum tua. Tak sedikit politisi muda terseret korupsi. Anas Urbaningrum, yang mantan aktivis mahasiswa itu, mulai disebut-sebut terseret kasus korupsi. Banyak politisi muda lainnya yang tak kuat menahan godaan kemewahan.
Sementara, di luar kekuasaan, kaum muda tak sanggup menolak godaan gadget terbaru. Mereka telah membangun dunianya sendiri: dunia fantasi. Mereka lebih gandrung pada “Stand Up Comedy” ketimbang “Isme-Isme”. Kalau ke tempat bersejarah, bukannya menggali sejarah dan pengetahuan, eh, malah sibuk potret-memotret.
Dalam konteks inilah kita mengingat Bung Hatta. Pada tahun 1933, ia menulis brosur berjudul “Pemuda Dalam Krisis”. Boleh dikatakan, isi brosur itu adalah refleksi, gugatan, dan harapan. Ia berusaha melihat kondisi pemuda saat itu. Kemudian ia mengajukan gugatan. Lalu, pada ujung tulisan, ia menaruh harapan.
Bung Hatta menulis, “sebagian besar pemuda Indonesia yang mendapat didikan barat berasal dari keturunan bangsawan atau golongan atas. Kebanyakan ia anak dari golongan priyayi, yang mendapat penghidupan dari pemerintah. Dan sudah biasa dalam peraturan jajahan, bahwa tidak pantas seorang pegawai negeri mencela pemerintah yang ia sendiri menjadi bagiannya.”
Kaum terpelajar, yang sebagian besar dari klas atas, dipaksa memilih: menggunakan ilmu atau pengetahuannya untuk diri sendiri ataukah menggunakan ilmu-pengetahuan itu untuk menerangi bangsanya. Sebagian besar, pada akhirnya, memilih mengabdi kepada administrasi kolonial. Demi mengejar titel, kehormatan, uang, pekerjaan, dan lain-lain.
Masalahnya, kata Bung Hatta, terletak pada sistem pendidikan kolonial. Sistem pendidikan kolonial tidak bebas nilai. Sebaliknya, sistem pendidikan kolonial itu membawa misi-misi kolonialistik. “Anak-anak Bumiputera dididik untuk menjadi buruh dalam perkebunan dan industri kolonial, menjadi perkakas kaum sana. Tidak untuk bekerja sendiri dan untuk keperluan rakyat kita,” kata Bung Hatta.
Bung Hatta menyakini, sistem pendidikan kolonial tak bisa diharapkan melahirkan pemberontak, kaum revolusioner. Sebaliknya, Bung Hatta menegaskan, hanya sistem pendidikan yang dijalankan pribumi sendiri, dengan kurikulum yang mengabdi kepada rakyat, yang bisa melahirkan pemuda revolusioner.
Bagi Bung Hatta, jika pemuda ingin mengabdi kepada rakyat, mereka harus membebaskan jiwanya dari pengaruh kolonialisme. Ia harus membuang mimpi-mimpi akan penghidupan dan kesenangan-kesenangan yang indah. Pendek kata, ia harus membuang cita-cita borjuisme-nya.
Artinya, kalau ditempatkan dalam kontes sekarang, pertama, kaum muda harus berani mencari ilmu pengetahuan di luar yang disajikan oleh sistem pendidikan kapitalis. Ia harus mulai membuka lembar demi lembar pemikiran pendiri bangsa. Juga tak boleh lupa menyelami teori-teori kritis.
Kedua, kaum muda harus berani menolak rayuan kapitalisme. Pemuda harapan bangsa itu harus berani menampik rayuan konsumerisme. Ia harus berani melakukan talak tiga terhadap gemerlapnya kapitalisme. Juga harus membersihkan sungai pemikirannya dari limbah individualisme dan pragmatisme.
“Lemparkan dari punggungmu segala beban burgerlijk (borjuis)…Inilah syarat-syaratnya untuk mencapai jalan pulang (ke Rakyat)” begitu pesan Bung Hatta.
Meminjam istilah Bung Hatta, inilah “pemuda dalam krisis”. Mereka dipaksa memilih: kembali kepada rakyat atau mendurhakainya. Dan disini tidak ada entweder…oder! Tidak ada ini atau itu!”
Yang jelas, kalau pemuda mau mengubah bangsa, ia tak boleh mengemis tongkat estafet kekuasaan dari kaum tua. Itu haram hukumnya dilakukan. Yang harus dilakukan: rebutlah kekuasaan itu dari tangan kaum tua!

Aditya Thamrinpenggiat di perhimpunan diskusi Praxis Theoria (aditya.praksis@gmail.com)
Sumber : http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20121103

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pengunjung