Kamis, 26 April 2012

Tembaga (II) Amonium Tetra Amin Sulfat Berhidrat




  BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Senyawa koordinasi adalah senyawa yang terbentuk dari ion sederhana (kation maupun anion) serta ion kompleks. Unsur transisi periode keempat dapat membentuk berbagai jenis ion kompleks. Ion kompleks terdiri dari kation logam transisi dan ligan. Ligan adalah molekul atau ion yang terikat pada kation logam transisi. Contoh ion kompleks adalah [Cu(NH3)4]2+.
Ion Cu2+ dapat dibuat menjadi garam kompleks Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat dan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat dengan reaksi antara larutan pekat yang mengandung ion Cu2+, ion amonium dan sulfat.
Kedua garam ini mempunyai struktur yang berbeda. Kristalnya seperti kristal monoklin dan rumus molekulnya adalah Cu(NH4)2(SO4)2.6H2O atau CuSO4(NH4)2SO4.6H2O. Dalam hal ini 4 dari 6 molekul airnya merupakan ion tembaga (II) hidrat, Cu(H2O)2.2H2O.
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pembuatan dan mengenal sifat garam rangkap tembaga (II) amonium sulfat heksahidrat dan tembaga (II) sulfat monohidrat.
1.2    Tujuan Percobaan
-          Mengetahui fungsi penambahan NH4OH pada pembuatan kristal Tembaga (II) Tetra Amin     Sulfat Berhidrat
-          Mengetahui persen rendemen dari kristal yang terbentuk
-          Mengetahui karakteristik kristal yang terbentuk
1.3    Prinsip Percobaan
1.3.1        Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat
Pembuatan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat adalah proses rekristalisasi dari suatu senyawa berhidrat yaitu garam sulfat pentahidrat dinmana dalam proses pengkristalan terbentuk hidrat yang terkristalisasi dengan senyawa kompleks yaitu Cu(H2O)4(NH4)2(SO4)2.2H2O dengan ligannya yaitu H2O dan atom pusat adalah Cu2+.
1.3.2        Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat
Pembentuk Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat berhidrat dari larutan CuSO4.5H2O yang direaksikan dengan NH4OH sebagai senyawa yang akan menjadi logam amin (NH3) lalu direaksikan lagi dengan etanol 70% sehingga membentuk senyawa kompleks Cu(NH3)4SO4.H2O dengan NH3 sebagi ligan yang akan berikatan dengan pusat Cu2+.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAK

                   Kimia Koordinasi atau kimia kompleks adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari senyawa-senyawa koordinasi atau senyawa kompleks. Senyawa-senyawa ini molekul-molekulnya tersusun dari gabungan dua atau lebih molekul yang sudah jenuh, misaalnya :
            BF3 + NH3           ---------->     BF3.NH3
            4KCN + Fe(CN)2 --------->    Fe (CN)2.4KCN
            CoCl3 + 6NH3    ----------->    CoCl3.6NH3
            PtCl2 + KCl + C2H4 ------->     PtCl2.KCl.C2H4
            Co(NO2)3 + KNO2 + 2NH3 ---->  Co(NO2)3.KNO2.2NH3.
(Sukardjo,1985)
                   Teori koordinasi dari Warner merupakan dasar bagi kimia koordinasi. Teori ini yang mendasarkan adanya valensi sekunder dapat menjelaskan sifat-sifat serta stereokimia dari banyak senyawa kompleks. Walaupun demikian, dengan adanya perkembangan yang sesat tentang teori ataom modern dan kenyataan bahwa teori Warner tidak dapat menjelaskan banyak sifat-sifat senyawa kompleks, timbul teori-teori baru tentang kimia koordinasi.
                   Teori ikatan dalam senyawa-senyawa kompleks mula-mula diberikan oleh Lewis dan Sidgwik. Teori ini karena tidak dapat menjelaskan bentuk-bentuk geometri senyawa-senyawa kemudian ditinggalkan. Tiga teori yang kemudian timbul adalah :
a.       Teori ikatan valensi atau Valence Band Theory (VBT)
b.      Teori medan kriatal atau Crystal Field Theory (CFT) dan
c.       Teori orbital molekul atau Molekular Orbital Theory (MOT)
(Sukardjo,1985)
                   Logam-logam transisi dapat membentuk ion-ion kompleks yang beragam. Contohnya adalah logam tembaga. Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur pada 10380C. Karena potensial elektroda standarnya positif (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan  adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ada dua deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I) diturunkan dari Tembaga (I) Oksida Cu2O yang merah, dan mengandung ion Tembaga (I), Cu2+. Senyawa-senyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam Tembaga tak larut dala air, perilakunya mirip senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa Tembaga (II) Oksida, CuO hitam. Garam-garam Tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat,padat,maupun dalam larutan air. Garam-garam temabaga (II) anhidrat, seperti Tembaga(II) Sulfat Anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning). Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo (Svehla,1990).
                   Tembaga memilki elektron s tunggal di luar kulit 3d yang terisi. Ini agak kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. Kulit d yang terisi jauh kurang efektif daripada kulit gas mulia dalam melindungi elektron s dalam muatan inti, sehingga potensial pengionan pertama Cu lebih tinggi daripada golongan alkali. Karena elektron-elektron pada kulit d juga dilibatkan dalam ikatan logam, panas penyubliman dan titik leleh tembaga jauh lebih tinggi daripada alkali. Faktor-faktor ini bertanggung jawab bagi sifat lebih mulia tembaga. Pengaruhnya adalah membuat lebih kovalen dan memberi energi kisi yang tinggi (Cotton and Wilkinson,1989).
                   Kebanyakan Cu (I) cukup mudah teroksidasi menjadi Cu(II), namun oksidasi selanjutnya menjadi Cu(III) adalah sulit. Terdapat kimiawi larutan Cu2+ yang dikenal baik, dan sejumlah besar garam berbagai anion didapatkan, banyak diantaranya larut dalam air, menambah perbendaharaan kompleks.
(Cotton and Wilkinson,1989).
                   Tembaga merupakan logam berwarna kuning merah dan logam yang kurang aktif. Bijih tembaga terpenting ialah kalkopirit (CuFeS2). Pemurnian tembaga dapat menggunakan elektrolisis. Penggunaan  utama adalah untuk kabel listrik, selain itu juga sebagai paduan logam.
                   Dalam ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau entitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dari ion logam. Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat itu. Jumlah relatif komponen ini dalam kompleks yang stabil nampak mengikuti stoikiometeri yang sangat tertentu, meskipun ini tidak dapat ditafsirkan dalam lingkup konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukkan jumlah ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat. Pada kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6 (seperti dalam kasus Fe2+, Fe3+, Zn2+, Cr3+, Co3+, Ni2+, Cd2+) kadang-kadang 4 (Cu2+,Cu+,Pt2+), tetapi bilangan-bilangan 2 (Ag+)
dan 8 (beberapa ion dari golongan Platinum) juga terdapat.
                   Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tesedia sekitar atom atau ion pusat dalam apa yang disebut bulatan koordinasi, yang masing-masingnya dapat dihuni satu ligan (monodentat). Susunan logam-logam sekitar ion pusat dengan bilangan koordinasi 6, terdiri dari ion pusat, dipusat suatu oktahedron, sedang keenam ligannya menempati ruang-ruang yang dinyatakan oleh sudut-sudut oktahedron itu. Bilangan koordinasi 4 biasanya menunjukkan suatu susunan simetris yang berbentuk tetrahedron, meskipun susunan yang datar (atau hampir datar), dimana ion pusat berada di pusat berada di pusat suatu bujur sangkar dan keempat ion menempati keempat sudut bujur sangkar itu, adalah juga umum (Svehla,1990).
·           Kompleks Planar Segi Empat
            Kompleks Planar Segi Empat terjadi dari ikatan hibrida d sp2 dari atom pusat dengan ligan. Orbital d yang ikut dalam ikatan ialah orbital d x2-y2
       di bawah orbital s dan p.
                   Kompleks planar segi empat terbentuk dari ion-ion pusat yang mempunyai struktur d8, seperti Ni2+, Pd2+, dan Pt2+.
a.       Ion tetrasianonikelat (II), [Ni(CN)4]2-
Ion ini terbentuk dari ikatan hibrida dsp2 dari Ni2+ dengan ion CN-. Ion [Ni(CN)4]2- bersifat diamagnetik karena semua elektron telah berpasangan, Ion lain dengan struktur sama : [PtCl4]2- dan [Pd Cl4]2-.
b.      Ion tetra amine tembaga (II) [Cu(NH3)4]2+
Ion ini terdapat sebagai larutan Scweitzer, bentuknya planar segi empat dan mempunyai momen magnet 1,8 B.M. Ini berarti bahwa ikatan hibrida yang terjadi adalah dsp2 dan berisi satu elektron yang tidak berpasangan.
                   Promosi elektron dari orbital 3d ke orbital 4p, tidak cocok dengan kenyataan, Bila hal ini benar, maka elektron tersebut harus mudah lepas, artinya kompleks mudah teroksidasi. Kenyataannya tidak demikian.
                   Bila elektron yang tidak berpasangan tetap berada di orbital 3d, hibridisasinya sp3 dan [Cu(NH3)4]2+ harus berbentuk tetra hedral. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan, karena ion tersebut berbentuk planar segi empat.
                   Struktur ion tersebut dapat dijelaskan dengan teori medan kristal sebagai ben tuk oktahedral yang mengalami distorsi.
·           Sifat paramagnetik
       Logam-logam transisi berbeda dengan logam-logam dari periode pendek, karena pada pembentukan ion-ion, logam ini tidak melepaskan semua valensi elektronnya. Logam-logam transisi dati periode panjang yang pertama, membentuk ion dengan melepaskan dua elektron dari orbital 4s dengan meninggalkan orbital 3d yang tidak lengkap. Elektron-elektron ini menurut hukum Hund tidak berpasangan dan spinnya berlawanan.
       Karena atom dengan elektron tidak berpasangan mempunyai momen magnet tetap, maka senyawa-senyawa dari logam transisi ini bersifat paramagnetik, artinya dapat ditarik oleh medan magnet (Sukardjo,1985).
·           Kompleks garam tembaga (II)
      Pelarutan tembaga, hidroksida, karbonat dan sebagainya, dalam asam menghasilkan ion akua hijau kebiruan yang dapat ditulis [Cu(H2O)6]2+, dua dari molekul-molekul H2O yang berada lebih jauh daripada tempat yang lainnya. Diantara berbagai kristal hidrat lainnya, sulfat biru CuSO4.5H2O yang paling dikenal, Ia dapat terhidrasi menjadi zat anhidrat yang benar-benar putih. Penambahan ligan kepada larutan akua menyebabkan pembentukan kompleks dengan pertukaran molekul air secara berurutan dengan NH3. Misalnya spesies [Cu(NH3) (H2O)5]2+ [Cu(NH3)4 (H2O)2]2+ dibentuk dengan cara normal, namun penambahan molekul NH3 yang kelima dan keenam sulit. Molekul keenam hanya dapat ditambahkan dalam cairan amonia (Cotton,2007).
      Jika larutan amonia ditambahkan ke dalam larutan ion Cu2+, larutan biru berubah menjadi biru tua karena terjadinya pendesakan ligan air oleh ligan amonia (Sugiharto,2003).
      Reaksi ion Cu2+ dengan OH- pada berbagai konsentrasi bergantung pada metodenya. Penambahan ion hidroksida ke dalam larutan tenbaga (II) sulfat secara bertetes-tetes dengan kecepatan mL/menit mengakibatakan terjadinya endapan gelatin biru muda dari garam tembaga (II) hidroksi sulfat, bukan endapan Cu(OH)2. Reaksi pengendapan sempurna terjadi pada pH 8, dan nilai n bervariasi bergantung pada temperatur reaksi dan laju pertumbuhan reaktan. Sebagai contoh dengan laju penambahan reaktan 1 mL/menit, reaksi tersebut menghasilkan CuSO4.3Cu(OH)2. Jika reaksi berlangsung pada suhu 200C dan CuSO4.4Cu(OH)2 pada suhu 240C.
Ligan di dalam ion kompleks berupa ion-ion negatif seperti F- dan CN- atau berupa molekul-molekul polar dengan muatan negatifnya mengarah pada ion pusat seperti H2O atau NH3. Ligan ini akan menimbulkan medan listrik yang akan menolak elektron terutama elektron dari ion pusat, karena elektron d ini terdapat di orbital paling luar dari ion pusat bertambah. Amoniak mempunyai pasangan elektron bebas atau lone pair elektron  (Sukardjo,1985).


 BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1       Alat dan Bahan
            3.1.1    Alat
                        -   Neraca Analitik
                        -   Corong kaca
                        -   Beaker glass
                        -   Batang pengaduk
                        -   Erlenmeyer
                        -   Gelas ukur
                        -   Pipet tetes
                        -   Hot plate
                        -   Oven
                        -   Wadah plastik
                        -   Kaca Arloji
                        -   Spatula
            3.1.2    Bahan
                        -   CuSO4.5H2O
                        -   (NH4)2SO4
                        -   NH4OH
                        -   Etanol 70%
                        -   Aquadest
                        -   Es batu
                        -   Kertas saring
                        -   Tissue
                        -   Garam dapur
3.2       Prosedur Percobaan
3.2.1    Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat
          -   Ditimbang masing-masing 0,5 gr CuSO4.5H2O dan 0,5 gr (NH4)2SO4
          -   Dicampurkan kedua bahan
          -   Ditambahkan 2 mL air panas
          -   Didinginkan di atas es batu
          -   Disaring
          -   Dikeringkan endapan di dalam oven
          -   Ditimbang kristal yang diperoleh
3.2.2    Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat
            -   Ditimbang 0,5 gr CuSO4.5 H2O
            -   Ditambah 1 mL aquadest panas
            -   Ditambah 2,5 mL NH4OH
            -   Ditambah 2,5 mL etanol 70%
            -   Didinginkan dalam es batu
            -   Disaring
            -   Ditimbang kristal yang terbentuk


 BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil Pengamatan
No.
Perlakuan
Pengamatan
1.














2.
Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat
-        Dicampur 0,5 gr CuSO4.5H2O dan 0,5 gr (NH4)2SO4
-       Ditambahkan 2 mL H2O panas
-       Didinginkan di atas es batu
-       Disaring
-       Endapan dikeringkan di dalam oven
-       Ditimbang



Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat
-       Ditimbang 0,5 gr CuSO4.5H2O
-       Ditambah 1 mL H2O panas
-       Ditambah 2,5 mL NH4OH
-       Ditambah 2,5 mL etanol 70%
-       Didinginkan dalam es batu
-       Dikeringkan dalam oven
-       Ditimbang





-       Larutan biru

-       Terbentuk endapan putih
-        Filtrat dibuang



-        0,5 gr endapan, biru muda, struktur halus, tidak higroskopis




-        Kristal biru muda

-        Larutan biru muda
-        Larutan biru tua
-        Larutan biru kehijauan
-        Terbentuk endapan


-        0,32 gram kristal
           


































4.2       Reaksi
                                                                                                          
4.2.1    Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat
                        CuSO4.5H2O + (NH4)2SO4  ------->  Cu(H2O)4(NH4)2(SO4)2.6H2O

4.2.2    Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Hidrat
                         CuSO4.5H2O + 4 NH4OH --------> Cu(NH3)4 SO4.H2O
4.3       Perhitungan
            4.3.1     Persen rendemen Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat
                         -     Berat endapan  =  0,5 gr
                         -     Berat endapan  =  0,5 gr + 0,5 gr
                                                        = 1,0 gr
                               % rendemen      = Berat endapan  x 100%
                                                           Berat sampel   
                                                        =  0,5 gr   x  100%
                                                            0,5 gr
                                                        =  50%
                        Dari percobaan didapatkan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat yang diperoleh adalah 0,5 gr dari 0,5 gr CuSO4.5H2O dan 0,5 gr (NH4)2SO4. Persen rendemen adalah 50%. Hal ini bererti dari 1 gr sampel yang direaksikan dapat diperoleh 50% produk hasil sintesis.
            4.3.2    Persen rendemen Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat
                        -      Berat endapan  =  0,32 gr
                        -      Berat sampel     = 0,5 gr
                               % rendemen     =  0,32 gr  x  100%
                                                            0,5 gr
                                                        = 64%
                        Dari percobaan didapatkan 0,32 gr Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, dari 0,5 gr sampel yang disintesis. Persen rendemen adalah 64%. Hal ini berarti dari 0,5 gr sampel dapat dihasilkan 64% produk hasil sintesis.

4.4       Pembahasan
            Prinsip percobaan pembuatan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat adalah didasarkan pada pembuatan senyawa kompleks dengan prinsip rekristalisasi dimana suatu kristal CuSO4.5H2O dilarutkan dalam aquadest panas lalu didinginkan agar mencapai derajat jenuh lalu dikeringkan dan terbentuk kristal Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat.
            Prinsip percobaan pembuatan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat adalah pembuatan senyawa kompleks dengan prinsip rekristalisasi. Dimana suatu kristal dilarutkan dalam aquadest panas hingga larut lalu ditambahkan NH4OH dan etanol hingga memicu terbentuknya endapan lalu campuran didinginkan dan disaring dimana endapannya diambil lalu dikeringkan dalam oven dan terbentuk garam Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat.
            Pada percobaan ini, mula-mula dilakukan pembuatan Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat 0,5 gram CuSO4.5H2O dan 0,5 gr (NH4)2SO4 dicampurkan lalu dilarutkan dalam 2 mL H2O panas. Perbandingan berat kedua zat dimaksudkan agar kedua zat yang bereaksi jumlahnya setara sehingga tepat saling bereaksi. H2O panas agar kelarutan zat bertambah. Ligan NH3 dari (NH4)2SO4 mendesak ligan air dari CuSO4.5H2O sehingga warna larutan menjadi biru. Setelah itu larutan didinginkan bertujuan untuk menurunkan suhu sehingga kelarutan berkurang dan terbentuk endapan. Endapan yang diperoleh dan disaring untuk memisahkan filtrat dari endapan. Kemudian endapan dan kertas saring yang telah diketahui beratnya, dikeringkan di dalam oven untuk menguapkan sisa filtrat, sehingga didapat berat endapan adalah 0,5 gr Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat yang berwarna biru muda, strukturnya halus dan tidak higroskopis.
Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat, ligan yang mengikat pada atom pusat H2O.
            Pada pembuatan Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, mula-mula ditimbang 0,5 gr CuSO4.5H2O yang dilarutkan dalam 1 mL H2O panas. Kemudian ditambahkan 2,5 mL NH4OH. Ligan NH4OH akan mendesak ligan H2O dari CuSO4.5H2O sehingga warna larutan menjadi biru tua. Penambahan ligan pada larutan berhidrat menyebabkan terbentuknya senyawa kompleks akibat terjadinya pertukaran molekul air dengan NH3 secara berurutan. Penambahan 2,5 mL etanol bertujuan untuk memicu terbentuknya endapan. Setelah itu larutan didinginkan untuk menurunkan suhu sehingga kelarutan berkurang dan terbentuk endapan. Endapan yang terbentuk disaring dan kemudian dikeringkan untuk menguapkan sisa filtrat sehingga didapat kristal Tembaga(II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat.
Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat, ligan yang mengikat pada atom pusat adalah NH3.
            Perbedaan karakteristik dari kedua senyawa yang terbentuk adalah, kristal Tembaga (II) Amonium Sulfat Berhidrat berwarna biru muda, halus dan tidak higroskopis. Karakteristik kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat berwarna biru keruh, dan kasar.
Fungsi perlakuan :
-       Penimbangan untuk mengetahui massa kristal awal dan massa kristal yang terbentuk secara akurat       
-       Pengadukan untuk mempercepat terjadinya reaksi akibat energi kinetik yang semakin besar
-       Pencampuran kedua zat berfungsi agar kedua zat dapat saling bereaksi sehingga terbentuk senyawa baru
-       Pendinginan untuk mencapai derajat jenuh pada larutan sehingga endapan lebih cepat terbentuk
-       Penyaringan untuk memisahkan endapan senyawa kompleks yang terbentuk dari filtratnya
-       Pengeringan untuk menguapkan pelarut sehingga diperoleh kristal yang kering tanpa mengandung air
Fungsi reagen :
-       CuSO4.5H2O sebagai bahan baku atau bahan utama dalam pembuatan garam Cu(NH4)3SO4.2H2O dan Cu(NH4)2(SO4)2.6H2O yaitu sebagai penyedia atom pusat Cu2+ yang berikatan dengan ligan.
-       (NH4)2SO4 sebagai ligan yang berikatan dengan Cu2+ dan mendesak molekul air
-       NH4OH sebagai ligan yang mendesak molekul air lalu berikatan dengan Cu2+
-       Etanol 70% untuk memekatkan larutan sehingga memicu endapan cepat terbentuk
-       H2O panas untuk melarutkan, agar kelarutan bertambah digunakan H2O panas agar kelarutan bertambah.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan garam anorganik adalah :
1.    Sifat Solute dan Solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula, solute yang non polar akan larut dalam solvent yang non polar pula.
2.    Cosolvensi
Consolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut.
3.    Temperatur
Zat padat yang bersifat endoterm kelarutannya bertambah ketika suhu dinaikkan karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.
4.    Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.
        Senyawa kompleks berhidrat adalah garam yang mengandung molekul air dalam perbandingan tertentu yang terikat baik pada atom pusat atau terkristalisasi dengan senyawa kompleks. Senyawa kompleks anhidrat adalah senyawa yang kehilangan atau tidak memilki molekul air.
       
Faktor kesalahan dalam percobaan :
-Kesalahan dalam penambahan reagen atau dalam penimbangan kristal
-Pengadukan yang tidak sempurna
-Pengeringan yang berlebihan
-       Pendinginan campuran yang kurang lama sehingga endapan tidak terbentuk maksimal
Hibridisasi dari ion Amonium Sulfat Berhidrat
Konfigurasi dari :
Cu2+ = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d9
                                                                          
   BAB 5
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
            -      Fungsi penambahan NH4OH pada pembuatan kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat ialah sebagai ligan yang mnedesak molekul air lalu berikatan dengan Cu2+.
            -      Persen rendemen dari kristal Tembaga (II) Ammonium Sulfat Berhidrat adalah 50% dan persen rendemen dari kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat adalah 64%
            -      Karakteristik kristal Tembaga (II) Ammonium Sulfat Berhidrat adalah halus, berwarna biru muda dan tidak higroskopis.
                   Karakteristik kristal Tembaga (II) Tetra Amin Sulfat Berhidrat berwarna biru keruh dan kasar.
5.2       Saran
            Menggunakan alkohol 95% agar dapat diketahui perbedaan rendemen hasil yang diperoleh dari senyawa yang dibuat dengan akohol 70%
                      

                                         DAFTAR PUSTAKA             

Cotton and Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. UI-Press : Jakarta
Sugiyarto. 2003. Dasar-dasar Kimia Anoraganik Logam. UI-Press : Jakarta
Sukardjo. 1985. Kimia Koordinasi. PT. Bina Aksara : Jakarta
Svehla, G. 1990. Vogel : Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Bagian I. PT Kalman Media Pusaka : Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pengunjung