Jumat, 06 April 2012

ISOLASI ASAM SINAMAT (KIMIA ORGANIK 2)


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Asam sinamat dan turunannya cukup lazim terdapat di alam. Asam sinamat terdapat dalam tanaman cengkeh, temu kunci, kemenyan, lengkuas dan lain-lain. Asam sinamat diperoleh dari fenilalanin berdasarkan eliminasi ammonia secara enzimatik dilanjutkan dengan hidroksilasi aromatik dan metilasi.
            Dalam percobaan ini, digunakan kencur sebagai sampel. Kencur adalah salah satu jenis empon-empon/tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan. Rimpang atau rhizoma tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan. Berbagai resep masakan tradisional Indonesia dan jamu menggunakan kencur sebagai komponennya. Kencur dipakai orang sebagai tonikum dengan khasiat menambah nafsu makan sehingga sering diberikan kapada anak-anak. Jamu beras kencur sangat populer sebagai minuman penyegar pula.
            Zat yang dikandung kencur adalah berupa komposisi kimia seperti: pati (4,14%), mineral (13,73%), minyak atsiri (0,02%) berupa sineol, asam metil kanil dan penta dekaan, asam sinamat, etil ester, borneol, komphene, paraeumarin, asam anisat, alkaloid dan gom.
            Pada percobaan ini dilakukan pengisolasian asam sinamat dalam kencur, dimana akan dijelaskan proses isolasi yang dilakukan untuk memperoleh asam sinamat tersebut dengan proses maserasi, refluks serta ekstraksi pelarut. Sehingga dapat diperoleh kristal murni dari sinamat dengan proses pengeringan di dalam oven.

1.2 Tujuan
-          Mengetahui sifat kimia dari asam sinamat dalam percobaan
-          Mengetahui fungsi maserasi dalam percobaan
-          Mengetahui massa kristal asam sinamat yang diperoleh beserta % rendemen
-          Mengetahui kegunaan dari asam sinamat

1.3 Prinsip percobaan
            Melakukan pengisolasian sinamat dari sampel dengan cara maserasi terlebih dahulu sampel kencur yang telah dihaluskan dengan menggunakan etanol 95 %. Tujuan maserasi ini adalah untuk mengangkat kandungan asam sinamat dari minyak atsiri dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Selanjutnya ekstrak ini yang telah disaring akan dibentuk garam sinamat terlebih dahulu dengan campuran NaOH dan etanol. Dilanjutkan dengan proses refluks untuk mereaksikan dengan sempurna, dan penguapan pelarut untuk didapatkan kandungan asam sinamat dalam minyak atsiri dan dilakukan ekstraksi pelarut dengan menggunakan pelarut dietil eter dan dengan pelarut air sebelumnya (sehingga terdapat dua macam fraksi yaitu polar dan nonpolar), selanjutnya dilakukan pengocokan agar dapat memisahkan antara fase atas (non polar yang mengikat minyak atsiri) dan fase bawah (polar yang mengikat asam sinamat). Fase bawah dihidrolisis dengan H2SO4(P) untuk mendapatkan endapan/kristal asam sinamat. Setelah dilakukan hidrolisis, didinginkan dan disaring endapan kristal asam sinamat dan dikeringkan.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

            Senyawa organik dengan rumus umum R–COO–R’ dimana R dan R’ adalah gugus alkil atau aril dapat dibuat dengan mereaksikan asam organik, RCOOH dengan alkohol, R’–OH disebut reaksi esterifikasi. Sebaliknya ester dapat dihidrolisis menjadi zat pembentuknya (asam organik dan alkohol). Reaksi hidrolisis ini kadang-kadang disebut juga penyabunan atau saponifikasi.
            Reaksi hidrolisis adalah reaksi yang terjadi antara suatu senyawa dan air dengan membentuk reaksi kesetimbangan, selain bereaksi, air juga berperan sebagai medium reaksi sedangkan senyawanya dapat berupa senyawa anorganik maupun senyawa organik.
            Hidrolisis pada garam anorganik, bergantung pada jenis garamnya, antara lain:
- Garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat tidak terjadi hidrolisis.
- Garam yang berasal dari basa kuat dan asam lemah, serta garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat akan mengalami hidrolisis sebagian.
- Garam yang berasal dari basa lemah dan asam lemah
(Mulyono, 2006)
a
            Adapun sifat-sifat dari asam sinamat, yakni:
-          Memiliki kelarutan rendah
-          Bersifat antioksidan
-          Mudah diisolasi
-          Berbentuk kristal
-          Bersifat polar
-          Mengandung gugus benzena dalam strukturnya
-          Heterosiklik
-          Bersifat amorf
-          Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4
-          Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat

            Senyawa-senyawa turunan sinamat ditemukan secara luas di alam, terutama sekali turunan hidroksisinamat, seperti p-kumarat, kafeat,ferulat dan sinapat. Senyawa-senyawa ini biasanya ditemukan dalam bentuk ester.
            Senyawa-senyawa ini mudah dideteksi, karena noda-nodanya diatas kertas saring (atau kromatogram kertas) memberikan fluoresensi berwarna biru atau hijau dibawah sinar ultraviolet. Intensitas warna ini dapat ditingkatkan bila diperlakukan dengan uap amoniak.
            Pada senyawa-senyawa turunan sinamat yang ditemukan di alam. Ikatan rangkap pada umumnya mempunyai konfigurasi trans yang lebih stabil dari pada konfigurasi cis. Akan tetapi, konfigurasi ini dapat diubah dari yang satu menjadi yang lain, dan isomerasi ini dapat terjadi selama proses pemisahan senyawa-senyawa ini dari jaringan tumbuhan oleh sinar matahari, terutama sekali sinar ultraviolet. Oleh karena itu, turunan sinamat yang dipisahkan dari jaringan tumbuhan lazimnya ialah campuran kesetimbangan dari kedua isomer tersebut.
            Senyawa-senyawa turunan sinamat dapat pula diidentifikasi dari spektrum ultraviolet, yang mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang sekitar 245 nm dan sekitar 320 nm. Senyawa-senyawa ini, dalam suasana basa memperlihatkan perpindahan serapan maksimum di daerah ultraviolet ke panjang gelombang yang lebih besar (perpindahan batokromik). Pengukuran dari besarnya perpindahan batokromik ini sangat berguna untuk maksud identifikasi.
            Senyawa-senyawa turunan sinamat dapat disintesis dengan reaksi Perkin, yaitu kondensasi aldol antara aldehida aromatik yang sesuai dan anhidrida asam karboksilat, dengan adanya garam natrium dari asam tersebut sebagai katalis. Pada reaksi ini, kondensasi terjadi antara gugus karbonil dari aldehida dan gugus menaktif dari anhidrida asam. Sedangkan fungsi dari katalis ialah untuk membentuk anion dan gugus metil aktif tersebut.
            Turunan sinamat dapat pula disintesa menggunakan reaksi knoevenagel, yakni kondensasi aldol antara suatu aromatik aldehid yang sesuai dengan asam atau ester malonat, dengan adanya katalis basa.
            Cara lain untuk mensintesis senyawa-senyawa turunan sinamat aldehida aromatik yang sesuai dengan ester asetat, dengan adanya katalis basa. (Arifin achmad, 1986)

            Enolat anion dapat bertindak sebagai nukleofil karbon dan beradisi pada gugus karbonil pada molekul aldehida atau keton lain. Reaksi ini membentuk dasar bagi kondensasi aldol, yaitu reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon yang sangat bermanfaat. Kondensasi aldol yang paling sederhana adalah gabungan dua molekul asetaldehida, yang terjadi jika larutan aldehida diberi larutan basa.
Hasilnya adalah rantai dengan 4 karbon, dinamakan aldol (nama berasal dari suku kata aldehida dan alcohol). Kondensasi aldol mudah dibuat melalui pembentukan anion enolat dari satu senyawa karbonil yang diadisikan kepada karbon karbonil lain. Contohnya, reaksi antara asetaldehid dengan benzaldehid. Dengan adanya basa, hanya satu macam anion enolat yang terbentuk. Jika enolat dari asetaldehida beradisi pada gugus karbonil benzaldehida, terbentuk kondensasi aldol campuran. (Hart Harold, 1983)

            Fenil propanoid adalah senyawa fenol alam yang mempunyai cincin aroamatik dengan rantai samping terdiri dari 3 atom karbon. Secara biosintesis senyawa ini turunan asam amino protein aromatik, yaitu fenilalanina dan fenilpropanoid, dapat mengandung satu sisa C6 – C13 atau lebih. Yang paling tersebar luas ialah asam hidroksisinamat. Suatu senyawa penting, bukan saja sebagai bangunan dasar lignin, tetapi juga berkaitan dengan pengaturan tumbuh dan pertahanan terhadap penyakit.
            Empat macam asam hidroksisinamat terdapat umum dalam tumbuhan, dan pada kenyataannya hampir terdapat dimana-mana. Keempat asam itu ialah asam ferulat, sinapat,kafeat dan p-kumarat. Asam hidroksisinamat biasanya terdapat dalam tumbuhan sebagai ester dan dapat diperoleh dengan hasil baik dengan cara hidrolisis basa lemah. Karena dengan hidrolisis asam panas bahan akan hilang akibat dekarboksilasi menjadi hidroksistirena yang bersesuaian. Asam kafeat biasanya terdapat sebagai ester asam kuinat dan ester ini diberi nama asam klorogenat.
(Harbone J.B, 1987)

            Asam sinamat diperoleh dari fenilalanin berdasarkan eliminasi amonia secara enzimatik dilanjutkan dengan hidroksilasi aromatik dan metilasi. Mula pertama dipercayai bahwa biosintesis melalui jalan asam fenil piruvat yang direduksi dan didehidrasi, tetapi saat asam sinamat ditemukan terlihat bahwa enzim dapat mengeliminasi amonia langkah utama. Reaksi ini dikategorikan sebagai reaksi berkesinambungan eliminasi –α,β dengan adanya pusat basa pada enzim yang mengikat β- proton.
            Eliminasi terjadi yang paling tepat secara stereoelektronik adalah konformasi trans-planar dengan pelepasan pro-35 hidrogen yang langsung menghasilkan asam trans-sinamat. Reaksi analog dengan eliminasi Hofmann. Penemuan fenilalanin amonialiase, PAL, mengungkap bahwa reaksi adalah dapat balik yang berarti bahwa readisi amonia harus berlangsung berlawanan terhadap polaritas ikatan rangkap. Penghambat kimia enzim dilakukan dengan pereaksi karbonil seperti natrium borohidrida yang mengandung tritium pada serangkaian hidroksi alanin dengan tritium menunjukkan pre dominan ke arah gugus metil.
            Asam sinamat dan benzoat kebanyakan terdapat sebagai ester glikosida karbohidrat, flavonoid, dan asam hidroksi karboksilat. Asam 3-kafeoilquinat (asam klorogenat) telah diisolasi oleh Payen pada tahun 1846 dalam bentuk kristal dari kopi dan ternyata senyawa tersebut terdapat sebagai metabolit yang umum dalam tanaman.
            Fenilalanin → asam sinamat → asam p-OH-sinamat → asam kafeat → asam 3, 4, 5-trihidroksi sinamat → asam gallat.
Pada sisi lain fenilalanin mengalami metabolisme lebih efektif bila dibandingkan dengan glukosa menjadi asam gallat dalam Rhus typhina. (Sastrohamidjojo, 1996)

Rimpang kencur (Kaempferia galang L.) melalui suatu proses tertentu telah diketahui dapat menghasilkan senyawa murni berbentuk kristal yaitu EMPS dan AMPS. Dalam proses tersebut terdapat sisa/residu berbentuk cair yang selanjutnya dikenal dengan fraksi minyak dari ekstrak etanol rimpang kencur. Dari sejumlah 6 kg sebuk rimpang kencur, pada penelitian ini diperoleh sebesar 38,33% dari total sebuk rimpang. Bahan tersebut berwarna coklat kehitaman dan berbau khas yang apabila dioleskan di kulit memberikan rasa panas/hangat.
Hidrolisa 30 gram fraksi minyak di atas pada tahap setelah pencucian dengan metanol panas terhadap padatan, menghasilkan kristal jarum tiadak berwarna sebanyak 4 gram dan bentuk padatan amorf berwarna putih sebanyak 225 mg. Setelah dilakukan kromatografi lapis tipis (KLT) terhadap fraksi minyak dan bentuk padatan kristal dan amorf  terdeteksi bahwa di dalam fraksi sisa hidrolisa masih terdapat asam sinamat selain sisa AMPS dan tampak nyata bahwa kadar asam sinamat lebih besar dari sisa AMPS. Dari hasil KLT terhadap fraksi sisa hidrolisa dan fraksi hasil hidrolisa (dimana didapatkan kristal AMPS dan asam sinamat) diketahui bahwa kadar asam sinamat pada fraksi sisa hidrolisa lebih besar dibandingkan fraksi hasil hidrolisa. Selanjutnya dilakukan isolasi asam sinamat dari fraksi sisa hidrolisa di atas. Akan tetapi hingga saat penelitian ini dilaporkan belum berhasil dimurnikan asam sinamat yang selalu bercampur dengan minyak yang berwarna cokelat tua. Sehingga kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya didalam rimpang kencur terdapat asam sinamat dalam jumlah yang lebih besar dari pada yang dihasilkan murni pada penelitian ini. (http://72.14.235.132/search?q=cache:www.adln.lib.unair.ac.id/penerapan+dari+asam+sinamat&cd=1&hl=id)

Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol. Turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat dan lain-lain. (http//72.14.235.132/search?q=cache:ardiansyah.multiply.com/)


BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
-          Neraca analitik
-          Beaker glass
-          Corong kaca
-          Labu alas bulat
-          Hot plate
-          Corong pisah
-          Gelas ukur
-          Pipet tetes
-          Statif dan klem
-          Panci
-          Ember
-          Selang
-          Pompa
-          Plastik
-          Karet gelang
-          Magnetik stirer
-          Pinset
-          Labu ukur
-          Kondensor bola
-          Oven

3.1.2 Bahan-bahan
-          Kencur
-          Etanol 95%
-          Etanol 70%
-          NaOH(s)
-          Aquadest
-          Dietil eter
-          H2SO4(p)
-          Kertas saring
-          Es batu
-          Vaselin
-          pH universal

3.2 Prosedur percobaan
3.2.1 Proses maserasi
-          sampel kencur diparut hingga halus.
-          Ditimbang sebanyak 50 gram dan dimasukkan ke dalam beaker glass
-          Dilarutkan dalam alkohol 95% sebanyak 100 ml
-          Ditutup plastik dan dibiarkan selama ± 4 hari

3.2.2 Isolasi Asam Sinamat
-          Disaring sampel kencur yang telah dimaserasi ± 4 hari
-          Diambil volumenya sebanyak 50 ml
-          Ditimbang 15 gr NaOH dan ditambahkan 100 ml etanol 70%
-          Dipanaskan larutan tersebut hingga tercampur semua
-          Dicampur larutan tersebut dengan ekstrak sampel kencur
-          Direfluks larutan tersebut ± 2 jam
-          Diuapkan pelarut, didinginkan
-          Disaring
-          Ditambahkan 50 ml air
-          Dimasukkan ke dalam corong pisah
-          Di tambah 30 ml dietil eter
-          Dikocok 20 menit
-          Dipisahkan antara fase atas dan fase bawah
-          Dihidrolisis dengan H2SO4(p) pada fase bawah
-          Didinginkan
-          Disaring
-          Dikeringkan dalam oven
-          Ditimbang
-          Dihitung % rendemen










BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
No
Perlakuan
Pengamatan
1.
-
-

-

-

2.
-

-
-

-

-

-
-
-
-
-
-
-
-



-

-
-
-
-


-
Proses Maserasi
Sampel kencur diparut hingga halus
Ditmbang sebanyak 50 gr dan dimasukkan ke dalam beaker glass
Dilarutkan dalam alkohol 95% sebanyak 100 ml
Ditutup plastik dan dibiarkan selama ± 4 hari
Isolasi Asam Sinamat
Disaring sampel kencur yang telah dimaserasi ± 4 hari
Diambil volumenya sebanyak 50 ml
Ditimbang 15 gr NaOH dan ditambahkan 100 ml etanol 70%
Dipanaskan larutan tersebut hingga tercampur semua
Dicampur larutan tersebut dengan ekstrak sampel kencur
Direfluks larutan tersebut ± 2 jam
Diuapkan pelarut, didinginkan
Disaring
Ditambahkan 50 ml air
Dimasukkan corong pisah
Ditambah 30 ml dietil eter
Dikocok 20 menit
Dipisahkan antara fase atas dan fase bawah


Dihidrolisis dengan H2SO4(p) pada fase bawah
Didinginkan
Disaring
Dikeringkan dalam oven
Ditimbang


Dihitung % rendemen









-      Larutan bening kuning kecoklatan

-      Larutan bening



-      Larutan kuning keorangean


-      Larutan putih keruh
-      Larutan kuning keruh



-      Terbentuk 2 fase
-      Fase atas: larutan putih keruh
    Fase bawah: larutan kuning keruh


-      pH = 3

-  Larutan putih keruh terdapat busa
-  Endapan putih
-  Endapan putih
- Kertas saring=0,95 gr kertas saring + endapan = 2,04 gr
    Endapan=1,09gr
-  % rendemen=2,18%


4.4 Pembahasan
            Prinsip percobaan ini adalah pengisolasian asam sinamat dari sample yang diduga mengandung asam sinamat dalam hal ini sample yang digunakan adalah kencur. Untuk mendapatkan asam sinamat ini terlebih dahulu dibentuk garam sinamat dengan NaOH yang telah dicampur dengan etanol 70% dan dilajuntkan dengan proses refluks untuk mereaksikannya dengan sempurna, sehingga didapatkan filtrate murni yang diuapkan pelarutnya (etanol). Lalu dulajutkan dengan proses ekstraksi pelarut dengan dietil eter. Setelah didapat filtrate murni asam sinaamat pada fase bawah, kemudian dihidrolisis dengan H2SO4(P) untuk mendapatkan endapan/kristal asam sinamat. Setelah dilakukan hidrolisis, didinginkan dan disaring endapan tersebut dan dikeringkan dan didapatkanlah endapan asam sinamat yang kadarnya telah diketahui setelah dilakukan penimbangan.
            Dalam percobaan ini pertama-tama dilakukan tahap maserasi. Maserasi adalah proses perendaman dengan pelarut yang sesuai yang bertujuan untuk mengikat kandungan senyawa dari bahan yang diduga mengandung bahan tersebut dalam hal ini adalah asam sinamat. Sampel kencur di parut hingga halus dengan tujuan memudahkan pengambilan kandungan asam sinamat oleh pelarut. Ditimbang sebanyak 50 gr dan dimasukkan ke dalam beaker glass, dilakukan penimbangan untuk mendapat kadar massa yang dibutuhkan. Lalu dilarutkan dalam alkohol 95% sebanyak 100 ml. Digunakan alkohol 95% adalah selain untuk mengikat kandungan minyak yang ada dalam sampel juga untuk mempercepat pengikatan kandungan minyak atsiri karena kadar alkohol yang cukup tinggi ini, otomatis alkohol ini akan sangat ringan kerapatan jenisnya sehingga lebih bersifat volatil (mudah menguap) bila dibandingkan dengan alkohol 70% yang masih terdapat 30% nya kandungan air. Jadi kurang begitu volatil bila dibandingkan dengan 90%. Lalu langkah terakhir adalah ditutup dengan plastik dan dibiarkan ± 4 hari. Fungsi ditutup dengan plastik agar tidak terkena langsung cahaya matahari karena dikhawatirkan akan menguapkan pelarutnya beserta minyak atsiri yang telah diikat oleh pelarut.
            Tahap kedua adalah isolasi asam sinamat dengan menyaring sampel kencur yang telah dimaserasi ± 4 hari dengan tujuan mendapatkan filtrat yang mengandung minyak atsiri yang didalamnya terkandung asam sinamat. Lalu diambil volumenya sebanyak 50 ml. Lalu dibeaker yang lain ditimbang 15 gr NaOH dan ditambahkan 100 ml etanol 70%. Fungsi NaOH disini untuk membentuk garam sinamat dengan reaksi penggaraman. Digunakan NaOH bukan KOH kerana massa atom Na lebih kecil dari pada K karena KOH lebih bisa dikatakan bersifat lebih reaktif, sehingga umumnya dapat menyabunkan minyak atau lemak yang berat. Karena dalam percobaan ini hanya ingin menyabunkan dan membuat garam dari minyak atsiri yaitu asam sinamat yang merupakan salah satu minyak atsiri. Minyak atsiri ini merupakan minyak ringan maksudnya memiliki bilangan jumlah atom C dari C4 – C9 dan bersifat volatil. Reaksi penyabunan ialah jumlah alkali (basa) yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah contoh minyak. Basa ini adalah dapat NaOH atau KOH. Lalu dipanaskan larutan tersebut hingga tercampur semua. Digunakan etanol 70% karena sebagai pelarut dimana terdiri dari komposisi 70% etanol dan air 30%, agar NaOH dapat larut dengan baik dengan etanol 70%. NaOH bersifat higroskopis sehingga dapat mengikat kandungan air dan etanol 70% ini bila memakai 90% maka hanya sedikit kandungan airnya yaitu 5% sehingga NaOH kurang optimal dalam kandungan air yang sedikit yang dimiliki oleh 90%.
            Dua macam larutan tersebut dicampur dengan ekstrak sampel kencur. Dan direfluks larutan tersebut ± 2 jam. Fungsi refluks untuk mereaksikan dengan sempurna dari dua campuran tersebut sehingga dapat bercampur dengan baik. Selanjutnya diuapkan pelarut dan didinginkan dengan tujuan penguapan untuk mendapatkan kandungan minyak atsiri yang ada asam sinamatnya, dan didinginkan agar tidak ada uap yang keluar dapat turun dan bercampur lagi dengan larutan dan dapat membantu proses pengendapan yang terbentuk. Kemudian ditambahkan 50 ml air yang berfungsi sebagai pelarut dan untuk membantu mengikat kandungan endapan sehingga dapat mengendap. Dimasukkan ke dalam corong pisah dan ditambah dietil eter 30 ml untuk proses ekstraksi pelarut, dengan dietil eter sebagai fraksi pelarut nonpolar yang akan mengekstraksi campuran. Lalu dikocok 20 menit yang berfungsi untuk memisahkan campuran hingga terbentuk 2 fase lapisan atas yang mengandung dietil eter dan lapisan bawah yang mengandung asam sinamat. Lalu dipisahkan antara fase atas dan fase bawah. Fase bawah dihidrolisis dengan H2SO4(p) untuk sebagai zat aktivator untuk menghidrolisis larutan dan mengasamkan sehingga mencapai pH=3 agar terbentuk kristal asam sinamat. Hidrolisis adalah suatu proses penguraian oleh air dengan menggunakan suatu aktivator asam kuat. Digunakan H2SO4(p) bukan asam-asam pekat lain karena bila asam yang lain misal HNO3 maka akan terhidrolisis sempurna dan langsung akan membentuk asam lemak bebas dan gliserol dengan kata lain merupakan oksidator yang terlalu kuat dan dikhawatirkan dapat merusak kandungan asam sinamat dan yang lainnya di dalam sampel. Bila menggunakan HCl(P) dikhawatirkan pada proses reaksi juga akan membentuk garam NaCl sehingga akan sulit dibedakan antara endapan garam hasil asam sinamat dengan garam NaCl dan akan lebih sukar lagi pemisahan keduanya. H2SO4(p) dapat menghidrolisis menjadi beberapa tahap ketimbang HNO3(p). H2SO4(p) akan mengoksidasi garam sinamat menjadi asam sinamat.
Proses selanjutnya adalah didinginkan yang bertujuan agar tidak terjadi reaksi isoterm yang terjadi saat penambahan H2SO4(p), dengan menghilangkan uap hasil hidrolisa selain itu pendinginan juga membantu proses pengendapan terhadap endapan kristal  asam sinamat. Kemudian endapan yang terbentuk disaring dan dikeringkan dalam oven yang bertujuan menghilangkan sisa air pada endapan. Dan ditimbang sehingga diperoleh endapan asam sinamat sebesar = 1,09 gr dan dihitung pula persen rendemen yaitu 2,18%.
Banyaknya endapan asam sinamat yang terbentuk dari hasil percobaan yaitu 1,09 gr dari 50 gr sampel sehingga diperoleh % rendemen sebesar 2,18%.
Karakteristik endapan yang terbentuk berupa endapan bentuk serbuk berwarna putih. Sehingga secara fisik karakteristik endapan asam sinamat sebagai berikut:
  1. Bila dengan metode rekristalisasi dapat membentuk kristal
-          Kristal jarum yang memanjang
-          Tidak berwarna pada kristal
-          Bentuk padatan amorf
  1. Bisa berbentuk padatan putih, serbuk, granulat (butiran)
-          Bila berbentuk serbuk berwarna putih, krem atau kekuningan
Sifat-sifat kimia asam sinamat yakni:
-          Memiliki kelarutan rendah
-          Bersifat antioksidan
-          Bersifat polar
-          Mengandung gugus benzen dalam strukturnya
-          Heterosiklik
-          Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat
-          Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4(p).
Dalam percobaan hidrolisa/hidrolisis dilakukan hingga larutan mencapai pH = 3, karena jika pH < 3, maka akan terbentuk suatu asam benzoat, dan jika pH > 3, maka larutan masih belum bisa terbentuk kristal asam sinamat.
Kegunaan dari asam sinamat antara lain:
-          Sebagai obat-obatan
-          Sebagai pembuatan parfum
-          Sebagai campuran kosmetik
-          Penangkal radikal bebas (antioksidan)
-          Pengkelat logam
-          Sebagai campuran penyedap masakan.
Kandungan kimia dari kencur antara lain:
-          Pati (4,14%)
-          Mineral (13,73%)
-          Minyak atsiri (0,02%) berupa:
·         Sineol
·         Asam metil kanil dan pentadekaan
·         Asam sinamat
·         Etil ester
·         Borneol
·         Kamphene
·         Paraeumarin
·         Asam anisat
·         Alkaloid
·         Gom

Ada beberapa faktor kesalahan dalam percobaan kali ini yaitu:
  1. Kurang teliti dalam penimbangan NaOH
  2. Kurang hati-hati saat mengambil lapisan bawah pada saat ekstraksi.
  3. Kurang optimalnya proses pengocokan.
  4. Kesalahan utama yaitu pada saat penguapan pelarut terbentuk gumpalan putih mengapung dipermukaan larutan yang ternyata bila diteliti lewat jurnal penelitian ternyata merupakan getah asam sinamat yang akan membentuk endapan bila pelarutnya terus diuapkan.


BAB 5
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
-          Sifat kimia dari asam sinamat yaitu:
a. Memiliki kelarutan rendah
b. Bersifat antioksidan
c. Bersifat polar
d. Mengandung gugus benzen dalam strukturnya
e. Heterosiklik
f. Dapat dioksidasi menjadi asam benzoat
g. Dapat dibuat dari proses hidrolisa oleh H2SO4(p)
-          Fungsi maserasi dalam percobaan adalah untuk mengikat kandungan senyawa dari bahan yang diduga mengandung bahan tersebut dalam hal ini adalah asam sinamat yang terdapat pada sampel yaitu kencur.
-          Massa kristal asam sinamat yang diperoleh beserta % rendemennya yaitu didapatkan massa sebesar 1,09 gr dan % rendemennya sebesar 2,18 %.
-          Kegunaan dari asam sinamat antara lain:
a. Sebagai obat-obatan
b. Sebagai pembuatan parfum
c. Sebagai campuran kosmetik
d. Penangkal radikal bebas (antioksidan), dll.

5.2 Saran
            Sebaiknya setelah disaring endapan putih asam sinamat dan sebelum dikeringkan dalam oven, endapan tersebut dicuci terlebih dahulu dengan alkohol dan air agar diperoleh endapan yang lebih murni.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Sjamsul Achmad. 1986. Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta : Karunika

HAM, Mulyono. 2006. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : ITB.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta : UGM press.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pengunjung